Selasa, 28 Desember 2010

Berburu di Pulau Umdum 2

6 komentar
Perburuan dilakukan malam hari. Ya, saat mangsa kita sedang tidur pulas. Burung yang menjadi target adalah burung merbuk. Bahasa sainsnya Geopelia striata, burung yang senang berkelompok ini memang paling enak digulai ataupun dibakar. Di pulau umdum ini, species ini mencapai jutaan jadi tidak perlu takut sampai punah.
Lima tim yang telah terbentuk siap menuju medan buru. Masing-masing tim terdiri dari 3 orang yang mempunyai peran berbeda. Seorang eksekutor, pemegang senter dan seorang tukang jagal, hehe. Sebelum mangsa menghembuskan nafas terakhirnya, si tukang jagal dengan sigab langsung menyembelih sesuai dengan syari’at Islam.
Luas pulau umdum kira-kira mencapai 15 ha. Jadi untuk jaga-jaga kami tetap saling berkomunikasi selama perburuan. Satu-satunya petunjuk arah adalah bintang utara. Kami berpatokan pada bintang di langit sebelah utara itu bila nantinya nyasar. Karena lokasi kemah kebetulan terletak tepat dibawah bintang yang tidak pernah redup itu.

Sementara yang lain berburu, dua orang relawan bertugas menjaga kemah dari binatang-binatang buas. Tentunya mereka bukan orang sembarangan. Minimal punya jurus menaklukkan harimau, hehe.
Oh ya, saya lupa menyinggung tentang senjata... bukan senapan angin, tidak pula panah apalagi pistol. Keadaaan Sudan yang belum sepenuhnya kondusif menyebabkan penggunaan senapan angin dan sejenisnya sedikit dibatasi. Senjata andalan kita malam ini adalah.. ‘KETAPEL’ !! Bahasa kerennya slingshot. Dan pelurunya pastilah batu J.. Perburuan malam ini, selain penuh tantangan dan menyenangkan juga cocok sebagai ajang penyaluran bakat bermain ketapel. Jadi ingat masa kanak-kanak di kampung, saat meng-ketapel buah mangga tetangga.
Sekitar pukul 12 malam para pemburu kembali ke kemah. Setelah dihitung – lumayan juga- malam ini kita dapat 60 ekor. Cukup banyak buat menu besok pagi sebelum kembali ke khartoum dengan seabreg aktifitas kuliah. Rona-rona puas tergambar jelas di wajah para snipers. Saling bercengkrama sambil memandang langit. Satu persatu tertidur dibuai angin malam.

Bintang utarapun mengedipkan matanya sambil berkata,
“Have a nice dream.. see u next hunt!”

6 Responses so far

  1. aku belum pernah makan burung lho. kayaknya gak tega gitu

  2. wah mantap gan info nya sukses selalu ya

  3. @The Best In Seo Sama aja kaya makan ayam kok :) thank bro..

  4. Anonim says:

    Sayang sekali,dateng jauh2 hanya menimbulkan kerusakan....Terkadang suka bingung,bila melihat orang2 non muslim di barat sana kok justru terkesan lebih mengimplementasikan nilai2 islam,mereka berjibaku melestarikan alam.Lha sbaliknya orang-orang indonesia yang mayoritas muslim malah demen banget melakukan kerusakan.Adakah islam hanya sebatas teks2 yang di hafal?

  5. Hehehe.. jangan terlalu serius donk :) kami cuma pakai ketapel bukan senapan angin apalagi buldoser, insyaallah ekosistem burung disini gak akan punah kok ^^

Leave a Reply

Komentarin SADAH Dunk !!

Pasang Banner Sadah.. ^^

create your own banner at mybannermaker.com!

SAdah-Sadah Sekalian