FollowSadahTwit@FahrieSadah
Setelah posting cerita ‘mis listening’ beberapa hari yang
lalu, hari ini saya mau cerita tentang adiknya ‘mis listening’ yaitu ‘mis
meaning’. Keduanya nyaris kembar tapi tak sama. Mis meaning tidak ada hubungan
dengan alat pendengaran harus divacum karena banyak debu! Namun, ia lebih
menjurus ke kajian ilmu makna atau dikenal dengan Ilmu Dilalah (Semantik). Jadi,
mis meaning itu, salah paham dalam mengartikan satu kata dalam bahasa yang sama..^^
Banyak faktor penyebab mis meaning, Sob. salah satunya karena
beda territorial. Kita ambil kata ‘motor’ sebagai contoh. Di Aceh, karena lebih
kental budaya melayunya dan sering bersinggungan dengan Malaysia, ‘motor’
diartikan sebagai ‘mobil’ bukan 'sepeda motor'!. Sedangkan masyarakat Aceh sendiri menggunakan kata ‘kereta’
untuk menyebut ‘sepeda motor’, padahal di luar Aceh ‘kereta’ sebutan untuk ‘kereta
api’. Bagaimana dengan di Jakarta dan daerah lain? Berbeda makna bukan? Berikut
studi kasus mis meaning pada kata ‘motor’;
MOTOR
Prolog:
Terjadi percakapan antara Sadah, mahasiswa baru asal Aceh,
baru pertama kali ke Jakarta (itu aku..hehe) dan Ical, anak betawi asli, ngakunya Betawi Arab keturunan habib. Setting ceritanya di parkiran salah satu kampus negeri
di Jakarta. Sadah sedang melihat-lihat sepeda motor di parkiran, waktu Ical baru
saja memarkirkan sepeda motornya. Sadah memang berencana mau beli sepeda motor
untuk keperluan transportasinya selama di Jakarta. Lalu Ical menghampiri Sadah
dan terjadilah percakapan berikut ;
Ical :: Hi, ente mahasiswa baru ya? Kenalin, Ane Ical!
Sadah :: Aku Sadah, aku memang masih baru di Jakarta. Wah,
kereta kamu bagus kali, Cal!
Ical :: Bujug! Kereta yang mane? Bisa tekor ni kampus kalo
kudu nyediain parkiran kereta! Hehe..
Sadah :: … … (Bengong, mis meaning)
Ical :: Udah, lupain! Di Jakarta jangan keseringan mangap
begitu, emangnye ane alien ape? Eh, ente asalnya dari mane mang?
Sadah :: Aku dari Aceh, Cal.
Ical :: Oh.. wah.. Kapan nyampe ente, dari Aceh kesini naik pesawat
ya?
Sadah :: Aku sampai dua hari yang lalu, pesawat mahal Cal, aku
naik motor ke Jakarta.
Ical :: Buset! Berapa hari pejalanan ente naik motor?
Sadah :: Jangan mangap begitu, aku sudah sering naik motor
berhari-hari untuk perjalanan jauh. Dari Aceh ke Jakarta cuma tiga hari tiga
malam kok.
Ical :: Waduh, tepos tuh pan***! Kok sanggup ente?
Sadah :: Naik motor itu enak, Cal! Kita bisa santai sambil
lihat-lihat pemandangan. Lagian, motornya bagus kok bisa selonjoran kaki gitu, tiduran juga bisa. Apalagi motornya ada AC dan selimut..
Ical :: ... ... (Makin mangap.. Mis meaning)
Apakah sobat sadah sekalian ikutan mis meaning juga membaca cerita ini?
Apakah sobat sadah sekalian ikutan mis meaning juga membaca cerita ini?
Fahrie Sadah berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’
yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng
Anggie, Desa Boneka, Kios108









